July 26, 2017

Intiland Bukukan Laba Bersih Rp187,6 miliar

Intiland mengumumkan hasil kinerja keuangan untuk semester I 2017.

Jakarta (26/07) – Perusahaan pengembang properti PT Intiland Development Tbk (Intiland) berhasil meningkatkan kinerja profitabilitas secara signifikan pada semester I 2017.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian untuk periode yang berakhir 30 Juni 2017, Perseroan membukukan laba bersih Rp187,6 miliar, atau naik secara signifikan sebesar 24,6 persen dari pencapaian pada periode sama tahun 2016 yang mencapai Rp150,6 miliar.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menjelaskan bahwa meningkatnya perolehan laba bersih terutama didorong oleh peningkatan pendapatan usaha. Perseroan tercatat berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar Rp1,3 triliun, atau naik 18,5 persen dari perolehan pada periode sama tahun 2016 sebesar Rp1,1 triliun.

“Meningkatnya pendapatan usaha terutama karena adanya pengakuan penjualan lahan industri di Ngoro Industrial Park di Mojokerto dan peningkatan dari recurring income,” ungkap Archied lebih lanjut.

Archied menjelaskan, berdasarkan segmen pengembangannya, kawasan industri menjadi kontributor pendapatan usaha terbesar mencapai Rp551 miliar atau 41 persen dari keseluruhan. Jumlah tersebut berasal dari penjualan lahan di Ngoro Industrial Park dan sisanya dari penjualan pergudangan Aeropolis Technopark di proyek Aeropolis di Tangerang.

Segmen pengembangan mixed-use & high rise tercatat memberikan kontribusi sebesar Rp316 miliar atau 24 persen dari keseluruhan. Penjualan dari proyek apartemen 1Park Avenue menjadi kontributor pendapatan terbesar di segmen ini.

Kontributor berikutnya berasal dari segmen properti investasi (investment properties) yang nilainya mencapai Rp252,3 miliar atau 19 persen dari keseluruhan. Segmen ini juga merupakan sumber pendapatan berulang (recurring income) Perseroan yang terdiri dari pengelolaan lapangan golf dan klub olahraga, penyewaan ruang perkantoran, ritel, dan pergudangan. Pencapaian segmen ini pada semester I 2017 melonjak 73,8 persen dari periode sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama disebabkan adanya kontribusi dari penyewaan gedung perkantoran South Quarter di Jakarta.

Segmen pengembangan kawasan perumahan memberikan kontribusi pendapatan usaha sebesar Rp220 miliar atau 16 persen dari keseluruhan. Proyek perumahan Serenia Hills tercatat memberikan pendapatan usaha terbesar pada segmen ini.

Sedangkan jika ditinjau berdasarkan tipe atau jenisnya, pendapatan dari pengembangan (development income) tercatat mencapai Rp1,09 triliun atau 81 persen dari keseluruhan. Sisanya sebesar 19 persen berasal dari kontribusi yang berasal dari pendapatan berkelanjutan yang nilainya mencapai Rp252,3 miliar.

Peningkatan pendapatan usaha tersebut juga berpengaruh langsung terhadap pencapaian laba kotor dan laba usaha Intiland. Pada semester pertama tahun ini, perseroan membukukan laba kotor sebesar Rp582 miliar, atau naik 24,7 persen dan laba usaha sebesar Rp295,4 miliar atau naik 62,8 persen.

Archied menilai kondisi pasar properti secara umum masih cukup berat pada periode enam bulan pertama tahun ini. Manajemen perseroan berharap kondisi pasar properti akan segera membaik di semester II 2017.

Saat ini pasar membutuhkan pulihnya daya beli serta minat dan keyakinan masyarakat untuk kembali berinvestasi di sektor properti. Selama ini konsumen, terutama di segmen pasar menengah ke atas cenderung bersikap menunggu (wait & see).

Sampai dengan akhir Juni 2017, Perseroan berhasil meraih pendapatan penjualan atau marketing sales Rp1,1 triliun atau 48 persen dari target 2017. Perolehan tersebut dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu mengalami sebesar 10 persen.

“Kami akan terus berupaya memperkuat kinerja penjualan dengan fokus memasarkan inventori maupun lewat pengembangan baru di proyek-proyek yang berjalan. Untuk peluncuran proyek baru, kami mencari momentum terbaik dan terus meninjau kondisi pasar,” jelas Archied.

Sesuai rencana bisnis perseroan, Intiland sedang menyiapkan beberapa proyek pengembangan baru skala besar. Proyek-proyek di segmen pengembangan mixed-use & high rise tersebut berlokasi di Jakarta dan Surabaya.*